Agus Yang Gugur Karena Debat Dan Manuver Ayahnya


HARIANMAG - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni pernah dijuluki sebagai kuda hitam di Pilkada DKI Jakarta. Di awal pencalonan, pasangan calon yang diusung oleh Poros Cikeas ini diyakini sebagai pasangan yang kuat oleh sebagian kalangan untuk memenangkan perebutan kursi DKI Jakarta 1 dan 2.

Tepat pada hari pemilihan, Agus-Sylvi dipastikan tersingkir karena perhitungan antara hasil Quick Count sejumlah lembaga survei, dengan hasil akhir perhitungan manual KPU DKI Jakarta.

Berdasarkan hasil Quick Count LSI Denny JA, SMRC, dan Vox Populi, Agus-Sylvi ada di posisi buncit, di bawah pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) - Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan - Sandiaga Uno.

Pengamat politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung, Jawa Barat, Yohanes Sulaiman menyebutkan dua faktor utama yang menyebabkan Agus-Sylvi tersingkir di pentas Pilkada DKI :

1. Faktor pertama dan yang paling utama adalah performa Agus-Sylvi dalam tiga acara debat resmi yang diselenggarakan KPU DKI.
Dalam tiga rangkaian debat itu, Yohanes menilai performa Agus-Sylvi berada di bawah dua pesaingnya, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.
"Pengaruhnya sangat besar. Terbukti, tren penurunan elektabilitasnya dimulai setelah debat digelar," kata Yohanes seperti dikutip HarianMag dari CNNIndonesia.com.
Buruknya performa debat Agus, menurut Yohanes, bukan hal aneh jika merujuk pada latar belakangnya yang belasan tahun menjadi tentara. 
Yohanes menilai bahwa Agus tidak pandai berdebat karena dididik dalam dunia militer yang tak mengenal budaya perdebatan. Menurut Yohanes, kekurangan itu sebenarnya bisa diatasi jika tim pemenangan memiliki persiapan yang matang dan bisa memaksimalkan peran Sylvi.
"Tapi saya tak melihat itu. Persiapan mereka terlihat minim dan itu terlihat dari tak ada kolaborasi antara Agus dan Sylvi. Sylvi yang diharapkan bisa menutupi kekurangan Agus di panggung debat, justru tak banyak berperan," ujar Yohanes. 
"Buruknya performa mereka saat debat pada akhirnya membuat publik sadar bahwa pasangan ini (Agus) masih terlalu hijau," imbuh Yohanes. 
2. Faktor kedua yang menyebabkan Agus-Sylvi tersingkir, menurut Yohanes, adalah manuver politik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tak lain adalah ayah kandung Agus Harimurti Yudhoyono.
Yohanes menilai kesalahan politik SBY lantaran menyeret nama Agus dalam sejumlah persoalan yang ia hadapi belakangan ini.
SBY dalam sejumlah pidatonya memang kerap membawa-bawa nama Agus. Itu ia lakukan ketika mengomentari isu penyadapan. Dan, yang terbaru, saat berbicara 'menangkis serangan' dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, kemarin.
Manuver politik SBY disebut telah terlalu jauh mencampuri urusan politik putra sulungnya. Akibatnya, manuver politik SBY gagal mendulang simpati publik, melainkan justru menimbulkan kesan negatif di mata publik. 
"Karena manuver ayahnya, publik justru melihat Agus sosok yang manja. Padahal, jika dibiarkan tanpa campur tangan SBY, mungkin hasilnya bisa berbeda," kata Yohanes.




Agus-Sylvi Penentu Kemenangan

Meski dipastikan sudah kalah, namun peran Agus-Sylvi tidak serta merta terhapus begitu saja, karena posisi mereka justru semakin penting. Sebab dukungan yang akan mereka limpahkan bisa menentukan siapa pemenang Pilkada DKI Jakarta 2017.

Kini Agus-Sylvi menghadapi dua pilihan, apakah akan mengalihkan semua dukungan mereka kepada Ahok-Djarot atau Anies-Sandiaga.

Jika merujuk pada faktor identitas, Yohanes memprediksi mayoritas pemilih Agus-Sylvi akan mengalihkan semua dukungan mereka ke Anies-Sandi, karena basis suara Agus-Sylvi dan Anies-Sandi sama-sama berasal dari massa Islam.

Namun, Yohanes ragu inisiatif pemilih itu akan menjalar ke level elit. Di tingkat elite, Yohanes meragukan Agus-Sylvi bakal secara terbuka menyatakan dukungan kepada Anies-Sandi, karena hubungan buruk antara SBY dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.


Yohanes juga meyakini Agus-Sylvi tidak akan melimpahkan dukungan kepada Ahok-Djarot karena hubungan buruk antara SBY dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Posisinya akan seperti Pilpres 2014 ketika Partai Demokrat tidak memberikan dukungan terbuka kepada Prabowo ataupun Jokowi," kata Yohanes.

Sedangkan pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar juga memprediksi mayoritas pemilih Agus-Sylvi akan mengalihkan dukungan pada Anies-Sandi.

"Karena mereka (pemilih Agus dan pemilih Anies) berbagi banyak hal yang sama. Mereka membangun isu yang sama dan memiliki identitas yang sama," kata Idil.


Akan tetapi, Idil juga mengatakan bahwa dukungan dari Agus-Sylvi itu tidak menjamin Anies-Sandi akan memenangkan Pilkada DKI Jakarta.

"Karena tidak semua suara AHY beralih ke Anies. Ahok masih punya kesempatan mencuri suara dari pemilih AHY. Jadi, siapa yang menang nanti akan sangat tergantung pada selisih Anies dan Ahok di putaran pertama," tutup Idil.

No comments:

Post a Comment