HARIANMAG - Polda Metro Jaya akan segera memanggil Ketua Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab (Habib Rizieq) untuk diperiksa soal ucapannya yang menyebut adanya logo Palu Arit dalam uang Rupiah yang baru.
Rencananya, Habib Rizieq akan diperiksa pada hari Senin (23/1). Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dengan tegas mengatakan kepada Habib Rizieq untuk tidak mengerahkan massanya saat menjalani pemeriksaan di Polda Metro. Hal tersebut dilakukan dengan alasan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Dan sebetulnya saya berharap kalau ada pemanggilan, tolonglah jangan ada mobilisasi massa. Karena kalau ada mobilisasi massa akan terbentuk psikologi massa. Psikologi massa berbeda dengan psikologi individu. Kalau psikologi individu bersifat rasional dan logis. Tapi kalau psikologi massa itu kadang-kadang irasional. Kita susah mengendalikan massa," kata Tito di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/1).
Tito juga mengingatkan kepada Habib Rizieq kalau kedatangannya hanya perlu didampingi oleh kuasa hukum saja. Dan dalam pemeriksaan, Habib Rizieq juga diminta untuk mengatakan yang sebenar-benarnya.
Pemanggilan ini juga masih menjadi tahap awal dalam proses pengungkapan kasus, masih ada beberapa proses yang harus dijalani. Tito mengatakan bahwa penyelidikan bisa saja dihentikan dan statusnya tidak dinaikkan apabila laporan tidak memenuhi syarat dan fakta.
Yang diperiksa juga tidak perlu khawatir sampai harus mengerahkan massa yang sekian banyaknya yang justru menunjukkan seolah-olah mereka ingin memberikan tekanan kepada penyidik polisi.
"Jangan menggunakan dan tidak perlu kalau dipanggil ada pengerahan massa. Karena pengerahan massa dapat diartikan seolah akan menekan. Akan melakukan penekanan terhadap penyidik tidak objektif. Dan harus mendikte penyidik dan lain-lain. Kita minta penyidik independen," tegas Tito.
"Apalagi ini isunya Pancasila sensitif karena ideologi negara. Pasti ada pro dan kontra. Oleh karena itu untuk menghindari itu jangan dipancing pengerahan massa. Bisa timbul pengerahan massa yang lain," tutup Tito.


No comments:
Post a Comment